Latar Belakang
Pada awalnya Bank Dunia adalah salah satu konsep dalam Perang Dunia II sebagai salah satu lembaga pemulihan ekonomi Eropa dan global pasca Perang. Munculah ide bahwa Bank menjadi agen pembangunan Global. Diawali pada tahun 1944, 43 negara bertemu di sebuah konferensi di Bretton Woods, [1]Amerika Serikat. Ini menyebabkan pembentukan Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD) untuk memberikan pinjaman untuk rekonstruksi Eropa setelah Perang Dunia II.
Dalam pergerakannya Bank Dunia bisa meramalkan peluang besar untuk investasi berbentuk pinjaman berjangka untuk proyek-proyek infrastruktur besar di negara berkembang. Terbukti selama tujuh puluhan, pinjaman Bank Dunia meningkat secara dramatis karena sudah mulai mendanai bendungan skala besar proyek di Asia, Afrika dan di Amerika Latin.
Kecenderungan ini berlanjut sampai munculnya krisis utang internasional di tahun 1980-an. Ada pergeseran dari proyek pinjaman tradisional dengan merubah menjadi pendekatan Bank Dunia untuk peran yang lebih invasif. Dimana pada awalnya Bank Dunia sebagai Agen restrukturisasi Ekonomi Global yang diutamakan bagi negara-negara berkembang, namun perlahan berubah menjadi lembaga yang berorientasi kapitalisme dengan menjadikan FDI asing sebagai alat pencapaian keuntungan sebesar-besarnya.
Pada akhir tahun delapan puluhan, sekitar 25 persen dari pinjaman Bank Dunia masuk ke restrukturisasi perekonomian negara-negara berkembang melalui program penyesuaian struktural (SAPs). Secara efektif, lembaga hasil Bretton Woods, Bank Dunia dan IMF telah mencapai posisi dari mana mereka bisa mendikte kebijakan ekonomi makro dan merebut kendali kedaulatan ekonomi sektor Selatan dari pemerintah seharusnya pembayaran pinjaman pokok. Bahkan sampai tahun 1996, tentang seperempat dari semua pinjaman Bank Dunia terus menjadi penyesuaian program struktural.
Lalu kemudian timbul pertanyaan, apakah Bank Dunia saat ini sebagai lembaga penyelamat atau sebagai penjebak pembangunan? Maka dalam kesempatan kali ini kelompok kami mencoba menganalisis serta mengkaitkan dengan Teori Johan Galtung dengan contoh kasus Indonesia sebagai korban.












* Gear : Nikon D5000